Kamis, 07 Juni 2012

Indonesia, dan sastranya.

sastra indonesia bisa dibilang sastra yang biasa biasa saja, mengapa? karena sastra di indonesia sebenarnya mengikuti pensastraan dunia, atau sastra latin. indonesia bukanlah negara yang memiliki sastra atau jati diri. indonesia hanya memiliki bahasa. namun walaupun tidak memiliki aksara indonesia, negara ini memiliki banyak aksara yang tidak dikenal dunia, seperti aksara sunda, aksara sansekerta, aksara lain yang masih terus dipelajari. walaupun aksara ini ga lagi di gunain dalam kehidupan umum namun aksara ini sangaaaat mengagumkan, karena aksara adalah hal yang sulit diciptakan.

aksara, bagi saya adalah sebuah lambang dan simbol. mudah, namun setiap simbol pasti menggambarkan sesuatu, aksara menjadi hal yang sulit ketika semua hal haarus bisa digambarkan dengan aksara, atau nantinya menjadi sastra dan berkembang lagi jadi budaya. mereka yang bisa menciptakan aksara bagi saya adalah bangsa yang hebat, seperti bangsa indonesia kuno dulu, mereka menciptakan aksara untuk menggambarkan banyak hal, mulai dari benda, kegiatan, hal abstrak, perasaan, sampai akhirnya, Tuhan pun bisa ia gambarkan dengan aksara,



aksara menjadi bagian podasi paling mengerika dalam sastra, karena aksara adal benih dari sastra, entah itu aksara khas suatu bangsa atau aksara serapan dari bangsa lain, tapi yang jelas sastra hanyalah omongkosong belaka jika tidak dikenalkan aksara terlebih dahulu.

aksara membantu kita untuk meciptakan gambaran akan setiap hal, bahkan hal berseni sekalipun, bahkan juga yang estetikanya kadang tak bisa di ungkapkan dengan aksara saja, dari sastra aksara dan estetika, akhirnya lahirlah seprti yang kita kenal sekarang sebagai puisi, sajak, dan banyak lagi.

jadi saya pikir, jika indonesia mau menjadi bangsa berbudaya dan berestetika, lebih baik hargai aksara milik sendiri dahulu sebelum mempelajari aksara negara lain. sejak kecil kita belajar bahasa indonesia, hingga SMA pun masih diujianka, namun mengapa susah sekali rasanya mendapatkan nilai bahasa indonesia dengan sempurna?

-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar